Al Hikmah Batu Bebaskan Siswa Pilih Jadwal Sendiri

sekolah terbesar di Indonesia

“Jangan sampai kita ini hanya memberi apa yang kita punya! Tetapi yang benar kita memberi Apa yang dibutuhkan oleh siswa ini yang kita berikan secara optimal”.

Begitulah pernyataan yang disampaikan oleh Kepala Sekolah SMA Al Hikmah Boarding School Batu Dr Edy Kuntjoro. Edy melihat, sebagian besar lembaga pendidikan cenderung mengabaikan apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak dan bakat yang dimilikinya. Inilah yang berusaha dilakukan oleh SMA Al Hikmah Boarding School yang beralamat di Jalan Raya Giripurno No.145, Giripurno, Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur ini.

Edy menjelaskan, pihak sekolah seharusnya memetakan potensi dari tiap muridnya. Inilah yang dilakukan oleh pihaknya bahkan sejak awal calon murid memasuki tahun ajaran baru. Kemudian setelah itu, para murid akan mendapatkan layanan dan fasilitas pembelajaran yang berbeda satu sama lain. Dengan begitul, tujuan akademik yang optimal bisa tercapai. Untuk lebih jelasnya, mari simak wawancara berikut bersama Kepala Sekolah Edy Kuntjoro.

Apakah benar, jika ada proses pemetaan kompetensi bagi tiap siswa di SMA Al Hikmah Batu ini?

Benar, memang tahapan itu selalu kami lakukan. Sebagian besar wali murid yang menitipkan anak-anaknya ke sini inginnya setelah anak mereka lulus tidak langsung bekerja, tapi mungkin kuliah di perguruan tinggi negeri atau ke luar negeri. Dan kita harus bisa mewujudkannya. Caranya sejak awal, anak-anak masuk kita petakan kemampuannya melalui program matrikulasi. Dimulai dari wawancara dengan wali muridnya, itu sudah kami potret kemampuan, bakat dan potensinya.

Dilanjutkan dalam program Basic Leader Camp (BLC) selama dua bulan bagi siswa baru. Di saat akhir program, anak-anak itu akan diminta untuk membuat proposal hidup. Anda ingin menjadi apa cita-citanya? Nah setelah itu, kita bakal tahu ‘titik nol’ anak-anak ini di mana. Juga kekuatan anak tersebut di mata pelajaran apa, kurangnya anak-anak dimana. Dari sana, kita baru bisa memberikan layanan yang sifatnya individual atau berbeda satu siswa dengan yang lain. Misalnya Anda ingin menjadi polisi akan dibedakan pemberian materi akademik dan non-akademiknya dengan anak-anak yang ingin menjadi dokter.

Setelah dipetakan, bagaimana selanjutnya?

Setelah dipetakan, kita akan berikan program yang sesuai dengan kebutuhan individual capaian akademiknya. Tentunya, kita sadar bahwa anak-anak itu tidak memiliki kecepatan belajar yang sama maka kita pun memiliki pendekatan yang berbeda tiap anaknya. Dan itu menjadi konsep belajar masing-masing bagi tiap anak ketika sudah memasuki kurikulum. Konsep itu biasa kita sebutSelf-Directed Learning’ (SDL).  

Konsep ini nantinya akan berusaha mengoptimalkan kemampuan individu semaksimal mungkin. Sehingga penekanannya di sini adalah konsep belajar mandiri.

kurikulum pendidikan millenial

Bukankah kalau seperti itu, membutuhkan banyak guru?

Tidak. Jumlah gurunya sama saja. Tapi kita tetap harus menekankan pada basic kemampuan masing-masing anak. Untuk menerjemahkan dalam proses ajar-mengajar, kita memang telah menyiapkan modul pembelajaran khusus yang kami kembangkan sendiri.

Jadi gampangnya begini, ketika anak-anak itu ingin menjadi dokter tentunya kita berpikir untuk memprioritaskan mata pelajaran (mapel) Biologi, Matematika dan juga Bahasa Inggris. Porsinya kita lebihkan dibanding mapel lainnya. Sementara untuk pelajaran lainnya, si anak kita tidak tekankan. Hanya saja, tetap harus memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Sehingga yang menarik di sekolah kami, jadwal pelajaran berbeda tiap minggunya. Para guru akan memasang jadwal kapan dia mengajar dan apa materinya. Dan peserta didik ini bisa memilih jadwal yang ingin diikutinya. Misalnya untuk materi sejarah untuk Kerajaan Majapahit, bisa jadi ada murid yang merasa sudah tidak perlu lagi ketemu guru, cukup belajar sendiri, mengerjakan modul dan tugas-tugasnya. Tapi mungkin masih merasa kurang untuk pelajaran biologi ini tentang DNA. Murid itu bisa boleh mengambil materi lebih banyak dari temannya. Sehingga tidak jadi soal si murid mengambil jam pelajaran lebih dari yang disyaratkan pada kurikulum 2013.

Sehingga di Al Hikmah Batu, murid belajar tidak hanya mengandalkan guru. Anak-anak juga bisa belajar dari sumber lain. Salah satunya melalui aplikasi yang kami kembangkan sendiri yaitu Learning and Content Management System (LCMS). Jadi bukan hal yang aneh di sini ketika anak-anak memegang laptop dan dia belajar secara mandiri.

Akhirnya percepatan kemampuan bisa dioptimalkan. Sehingga tidak jarang ditemui terdapat sejumlah siswa yang pada ketika itu baru semester 1, tapi sudah mempelajari materi untuk semester 2 di mata pelajaran tertentu. Sehingga targetnya bisa terlaksana sesuai SDL-nya masing-masing.

Tantangannya, terdapat di sisi guru dan tenaga pengajar. Karena mereka harus membuat persiapan modul dan menguasai pelajaran tidak hanya untuk mengajar materi semester 1, tapi harus sudah siap untuk materi semester selanjutnya. Mengapa? Karena bisa jadi ada anak yang punya keinginan untuk belajar lebih untuk menguasai materi lanjutan.

Hal inilah yang jarang ditemukan di lembaga pendidikan lain. Pembelajaran berbasis minat, bakat dan potensi peserta didiknya. Sehingga, para murid bisa lebih dekat untuk mencapai apa yang diinginkan dan dicita-citakan di masa depan. Al Hikmah Boarding School Batu pun digadang-gadang salah satu boarding school terbaik di Indonesia. Oleh karena itu, bagi para orang tua yang ingin mendaftarkan anaknya, tidak perlu ragu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *