3 Inti Pendidikan Pesantren | KH. Fatih, Maskumambang

Hari Senin saya berkesempatan silaturahim dengan pimpinan pesantren Maskumambang Gresik. Pesantren ini berdiri pada tahun 1859. Tergolong cukup tua di wilayah Jawa Timur, mengalahkan Gontor, 1926.

Pesantren ini santrinya berjumlah 1.400, namun hanya sepuluh persen saja yang tinggal dalam asrama. Mayoritas santrinya dari wilayah sekitar.

Saya berbicara dengan putra pendiri pesantren ini sekitar satu jam lamanya. Namun yang menarik adalah certia beliau tentang apa inti pendidikan di pesantren.

Inti Pendidikan Pesantren

Menurut Kyai Fatih, inti pendidikan pesantren hanya tiga saja. Pertama adalah pendidikan aqidah. Tauhid kepada Allah. Dari tauhid inilah setiap santri memiliki sandaran hanya kepada Allah. Sehingga dalam hidup tidak ada rasa takut.

Aqidah akan berimbas pada akhlaq masing-masing santri. Aqidahnya baik akhlaqnya menjadi baik. Sehingga banyak orang yang mempercayai. Jujur karena takut dosa dari berbohong. Tidak menipu karena takut Allah Maha Tahu.

Tapi meskipun orang banyak yang percaya hidup santri selalu sederhana. Inilah ajaran kedua di pondok pesantren. Kesederhanaan. Di zaman seperti ini yang susah adalah mencari orang yang hidup sederhana. Kaya bisa beli mobil mercy, tapi justru membeli sedan camry.

Pesantren Maskumambang
Pesantren Maskumambang Gresik

Kesederhanaan Santri Pesantren

Lebih banyak justru sebaliknya. Bisanya beli motor, malah beli mobil. Yang dikedepankan gengsi. Kesederhanaan inilah yang akan menumbuhkan keteladanan. Bisa kita buktikan dari tokoh-tokoh sejak zaman pra kemerdekaan. Yang harum adalah yang sederhana.

Natsir adalah tokoh yang sangat sederhana. Aidit, tokoh PKI pun sederhana. Bahkan pencitraan di Indonesia yang paling laku juga seolah sederhana.

Hidup sederhana di pesantren diajarkan dalam pola kehidupan keseharian selama dua puluh empat jam. Tidur hanya memakai kasur di lantai. Kamar bersama-sama dengan teman-teman. Begitu juga dengan makan, seadanya, yang penting cukup gizi, bukan mewahnya.

Kehidupan yang sederhana akan menjadikan anak pesantren terbiasa dengan banyak cobaan. Sudah biasa hidup susah. Tidak kaget dengan kerasnya kehidupan.

Ketrampilan di Pesantren

Namun aqidah dan kesederhanaan saja tidak cukup. Ada inti pendidikan pesantren yang ketiga, yaitu ketrampilan. Inilah yang sebenarnya membuat santri sukses. Uniknya ketrampilan yang didapat santri biasanya bukan diajarkan khusus.

“Kalau ada yang kesleo, satu santri diminta mijet. Ternyata sembuh, enak. Eh, jadi tukang Pijet,” tersenyum beliau sembari duduk.

Betul juga. Saya sendiri dulu hanya ditugasi mengisi majalah dinding pesantren setiap pekan. Yang terjadi justru saya suka menulis dan melahirkan buku. Teman saya yang dulu ditugasi di bagian kaligrafi, sekarang memiliki show room kaligrafi

Ketrampilan inilah yang menjadi alat setiap santri di luar pondok pesantren. Bersandar kepada Allah, akhlaqnya baik, hidupnya sederhana, punya ketrampilan, maka kesuksesan akan diraih santri itu.

“Inti pendidikan pesantren hanya itu,” di akhir diskusi beliau dengan santun menyampaikan.

Maka hal yang aneh ketika kita di pesantren mendapatkan pendidikan lain, tapi inti pendidikan pesantren justru dilupakan, aqidah, kesederhanaan, dan ketrampilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *