Memahami Arti Filosofi Pesantren

nu.or.id

Beberapa hari yang lalu, salah seorang teman kantor berbincang dengan saya mengenai program pesantren unggulan. Ada satu pertanyaan menggelitik yang dia ungkapkan, “Bagaimana sebenarnya membentuk kurikulum pesantren yang baik? Sehingga outputnya juga bagus dan bermutu?”

Saya menjawab pertanyaan itu dengan agak panjang. Ini persoalan filosofi pesantren. Karena memang membicarakan pesantrean bukanlah membicarakan hitam dan putih sebuah lembaga pendidikan. Tapi lebih dari itu adalah membahas tentang akar filosofis pesantren, ruhul jihad-nya, keilmuan, lingkungannya, sistem pendidikannya, manajemen sumber daya manusianya,sampai kemandiriannya.

Tidak perlu terlalu rumit memahami apa itu pesantren. Kyai saya dulu secara sederhana menyatakan bahwa definisi pesantren adalah,

“Lembaga pendidikan islam berasrama, dimana masjid menjadi pusat kegiatannya dan kyai sebagai sentral figurnya”

Barangkali ada yang menganggap pengertian diatas terlalu mengkultuskan figur kyai. Tapi memang begitulah adanya. Coba simak baik-baik asal usul pesantren berikut ini,

Asal Usul Pondok Pesantren

“Pada mulanya ada seorang kyai yang mendirikan masjid disebuah tempat. Lalu beberapa orang datang menemui sang kyai untuk minta diajar, menuntut ilmu. Lama kelamaan, semakin banyak orang yang datang kepada kyai sehingga rumah kyai tidak mencukupi lagi untuk menampung mereka. Atas inisiatif para santri sendiri, mereka mendirikan pemondokan di sekitar rumah kyai untuk fasilitas pendidikan mereka sendiri.”

Jadi jelas, sejak awal filosofi pesantren mengajarkan pesantren adalah medan perjuangan, medan pelatihan dan pencetak generasi pejuang. Kyai tidak pernah memungut uang pendidikan, bahkan awalnya kyailah yang “mengidupi” para santri. Maka pendirian bangunan, dan fasilitas lain adalah inisiatif santri sendiri. Yang mereka upayakan sendiri, dan mereka jaga sendiri.

Jadi Kyai tidak pernah “memanggil” santrinya untuk datang, tidak pernah pasang iklan, tidak pernah koar-koar kesana kemari tentang faslitas pesantren ini itu dan sebagainya. Karena filosofi pesantren adalah perjuangan. Bukan kenikmatan, apalagi fasilitas duniawi. Maka Kyai tidak akan pernah memikirkan dunia. Ini filosofi.

Lalu apa kyai tidak boleh kaya? Tentu boleh, tapi dengan syarat pesantren yang dikelola lebih “kaya” lagi untuk memajukan umat. Sebab fungsi pesantren adalah lembaga “mundzirul Qaum” (pemberi peringatan kepada kaumnya) sebagaiman firman Allah dalam surat at-taubah 122.

Jadi memang harus ada muslim yang menjadi pengusaha sukses, politikus unggul, pengacara andal, tentara yang perkasa, pedagang yang kaya raya. Tapi tugas pesantren memang bukan untuk itu semua, tugas pesantren memang sebagai pemberi peringatan apabila para ekonom, politikus, dan pengusaha muslim itu melenceng dari garis yang tidak benar.

Maka kalau memang bercita-cita membangun pesantren, ya jangan bercita-cita untuk kaya dari pesantren, bukan itu filosofi pesantren. Peribahasanya: “Hidup-hidupilah Pesantren, Jangan mencari hidup dari pesantren”. Pahit memang, tapi justru itulah yang membuat pesantren masih eksis sampai sekarang. Tidak ada demo murid yang memprotes fasilitas pesantren yang “apa adanya”, karena memang mereka tidak pernah diundang dan dijanjikan macam-macam tentang fasilitas oleh kyainya. Mereka datang sendiri, meminta kyai ntuk mengajarkan ilmu.

Filosofi dari Pesantren

Nasehat Kyai yang senantiasa saya ingat adalah:

“Berjuang dulu, beramal, ikhlas… Sebab amal yang ikhlas akan menciptakan aktifitas, aktifitas yang istiqomah akan menimbulkan mobilitas, mobilitas yang terarah akan menciptakan kreatifitas, dan kreatifitas yang baik akan menelurkan kualitas, sedangkan kualitas yang terjaga tentu akan membentuk kuantitas, setelah kuantitas terbentuk, baru bicara fasilitas!!!”

Jadi Fasilitas diberikan setelah adanya kuantitas yang berkualitas. Inilah filosofi pesantren yang harus dipahami betul semua pengelola. Bukan sebaliknya, fasilitas diadakan dulu, sambil “berharap” akan mendulang kuantitas yang berkualitas. Ini sudah keliru secara filosofis. Dan justru ini yang banyak terjadi di pesantren abad 20.

Masuk pesantren, yang pertama hadir di benak adalah “saya akan mendapat fasilitas apa” dan bukan “Saya bisa beramal apa?” Padahal pertanyaan kedua inilah yang justru akan sangat mendukung keberadaan dan kelangsungan hidup pesantren. Sebab dengan pertanyaan itu, maka pesantren boleh punya unit usaha ekonomi, pesantren harus punya koperasi, harus punya perkebunan, harus punya basis-basis ekonomi, tapi bukan sebagai fasilitas pribadi kyai atau gurunya, tapi adalah untuk mendukung kemandirian pesantren, agar para santri bisa belajar optimal dengan biaya minimal.

Inilah filosofi dasar dari pesantren.

Penulis: Oki Rachmatullah
Pemerhati Dunia Pendidikan Pesantren

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *