Memahami Panca Jangka Pesantren Gontor

Bisa dikatakan Gontor bukanlah pesantren tertua di Indonesia. Bukan pula pesantren terbesar. Namun demikian bicara pertumbuhan dan konsistensi pendidikan, pesantren Gontor memang patut dijadikan rujukan.
Dari yang awalnya hanya di Ponorogo, kini sudah memiliki cabang lebih dari 15 di seluruh Indonesia. Belum lagi pesantren alumni yang sudah lebih dari 200 pesantren. Pertanyaan besarnya adalah apa rahasia kesuksesan pesantren Gontor?
Bagi kami salah satunya adalah Panca Jangka Gontor. Oleh sebab itu kami akan menjelaskan dengan penuh kekurangan, apa itu Panca Jangka Pesantren Gontor.

Apa itu Panca Jangka?

Gontor sebenarnya memiliki nilai utama mesin pendidikan yang tertuang dalam panca jiwa. Seperti layaknya Pancasila, Panca Jiwa adalah lima nilai utama dalam setiap aktivitas pondok pesantren. Namun demikian bagaimana jiwa itu bisa berjalan dengan baik, maka ada yang namanya Panca Jangka.
Panca Jangka secara sederhana dipahami sebagai lima nilai utama yang akan mempertahankan pesantren secara jangka panjang. Maka disebut dengan lima jangka. Dengan kata lain ini adalah wasiat dari pendiri pondok untuk setelahnya agar pesantren terus berkembang dan tetap hadir sebagai jawaban kebutuhan umat Islam.

Isi Panca Jangka

Pendidikan dan Pengajaran

Pendidikan dan pengajaran adalah fokus utama Gontor. Jangan berpaling ke yang lain. Artinya harus ada usaha kesinambungan untuk memperbaiki pendidikan dan pengajaran yang ada di dalam pondok pesantren setiap waktu.
Contoh, dalam sejarah, Gontor memulai pendidikan dari Tarbiyatul Athfal pada tahun 1926. Kemudian pada tahun 1932 menjadi Sullamul Muta’allimin, sepuluh tahun kemudian berdiri Kulliyatul Mu’allimin Al Islamiyah, atau KMI seperti yang sekarang.
Dikembangkan lagi ke jenjang Institut dengan nama Institut Pendidikan Darussalam, 1963, kemudian pada tahun 2016 mendirikan Universitas dengan 20 Prodi dan 7 Fakultas.
Dengan kata lain meskipun nantinya pesantren berkembang hingga ratusan cabang dan hingga puncak, atau hingga bisnisnya berkembang pesat, harus tidak melupakan bahwa fokus utama adalah pendidikan dan pengajaran.

Kaderisasi

Kaderisasi di Gontor selalu berarti patah tumbuh hilang berganti, belum patah sudah tumbuh kembali. Artinya kaderisasi Gontor selalu digiatkan. Sehingga pemimpin-pemimpin disiapkan dengan betul.
Apakah berarti semua berkualitas? Jawabannya tidak. Tapi komitmennya sangat tinggi. Sehingga memberikan semua waktu untuk pondok pesantren. Dari situlah kualitas akan meningkat.
Setiap ada posisi penting, dua sampai tiga orang sudah disiapkan untuk pengganti. Begitu juga dengan posisi yang lain. Inilah yang membuat pesantren Gontor tidak bingung jika ada posisi yang ditinggal.
Caranya sangat sistematis. Setiap calon pemimpin diberi penugasan yang melimpah, dilihat cara menyelesaikan masalah, dilihat keberhasilannya. Terus ditempa demikian sehingga terasah. Maka ada yang dikenal sebagai kader pondok. Yaitu orang yang sudah mewakafkan dirinya seratus persen untuk berkembangnya pondok pesantren.

Pergedungan

Panca Jangka selanjutnya adalah pergedungan. Maksud sebenarnya adalah sarana pra sarana, terutama dalam hal ini gedung. Di Gontor ada prinsip tidak boleh berhenti membangun. Paling tidak memperbaiki gedung.
Maka sangat jarang ditemukan ada gedung yang terlalu parah rusak. Jika ada dana dioptimalkan untuk membangun sarana, untuk santri atau untuk guru. Maka Gontor terus tumbuh secara stabil.
Tapi tidak hanya membangun gedung saja, tapi harus standard. Tidak asal-asalan. Maka Anda akan melihat gedung-gedungnya tidak hanya fungsional, tapi juga memiliki keindahan. Oleh sebab itu Gontor memiliki pertumbuhan yang cukup pesat.

Chizanatullah

Chizanatullah adalah persoalan sumber dana. Gontor harus memiliki pendanaan yang mumpuni. Maka ada sumber dana sendiri agar tidak tergantung pihak lain. Di sinilah ada pendanaan dari sumber usaha pondok pesantren yang cukup banyak.
Gontor memiliki usaha yang fungsinya memenuhi kebutuhan pokok santri. Seperti pabrik roti, pabrik susu, pabrik sandal, pabrik air minum, toko bangunan, pom bensin dan segala macam lainnya yang memberikan pemasukan untuk Gontor.
Bahkan Gontor memiliki badang wakaf yang tanahnya cukup luas sekali. Dalam desertasinya Dr. Daniar disebutkan, kira-kira memiliki harta wakaf sekitar 1/3 triliun.
Maka Gontor memiliki kemandirian tinggi dan uang pembayaran santri disubsidi oleh pesantren. Maka biayanya cukup murah. Perbulan hanya membutuhkan dana Rp. 690.000. Sudah termasuk uang makan, asrama, dan spp sekolah. Pokoknya senilai satu gram emas murni.
Inilah yang membuat Gontor terus bergerak tanpa henti karena adanya pendanaan yang cukup dari dalam pesantren.

Kesejahteraan Keluarga Pondok

Ini yang istimewa dari Gontor. Kesejahteraan keluarga pondok menjadi perhatian penting. Sekarang banyak sekolah yang SPP-nya mahal, tapi gaji gurunya kecil-kecil. Sehingga menimbulkan kecemburuan dan gurunya pergi.
Di Gontor kesejahteraan menjadi unsur sangat penting. Menjadi Panca Jangka. Kalau ingin kekal, perhatikan kesejahteraan SDM, kira-kira demikian.
Maka Guru di Gontor diberi kesejahteraan dari rumah hingga macam-macam. Guru di Gontor tidak memikirkan kebutuhan hidup. Semua sudah dipenuhi oleh Gontor. Bahkan setiap bulan ada beras, ada kebutuhan pokok, dan lain sebagainya.
Ketika kami konfirmasi ke ustadz Setiawan bin Lahore, “Apa ukuran dari guru-guru di Gontor?”
Jawaban wakil rektor Unida ini cukup membuat kami kagum, “Komitmen. Di Gontor komitmen menjadi faktor nomor satu yang sangat menentukan.” Maksudnya tidak hanya kesejahteraan, tapi juga jabatan.

One Reply to “Memahami Panca Jangka Pesantren Gontor”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *