Review Pesantren Gontor | Kelebihan dan Kekurangan

pesantren GontorPesantren Gontor di Indonesia namanya begitu dikenal. Berdiri di tahun 1926, pesantren ini lahir dari tiga bersaudara yang kemudian disebut sebagai trimurti, KH. Ahmad Sahal, KH. Imam Zarkasyi, KH. Zaenuddin Fanani. Saat itu usia para pendiri masih belasan tahun, kira-kira lulus SMA.

Di internet, Pesantren Gontor adalah pesantren paling populer di Indonesia. Pencariannya dalam satu bulan mencapai 14.000-an. Belum kalau menjelang ramadhan, pecarian di internet bisa dua kali lipat.

Kali ini redaksi sekolahpesantren.id akan mengulas Gontor dari sisi kelebihan dan kekurangannya.

Karakter Pesantren Gontor

Pesantren Gontor adalah pionir pondok pesantren modern di Indonesia. Di masa berdirinya pada tahun 1926, umumnya pesantren adalah klasik, dengan identitas pengajian kitab kuning, dan pakaian yang dikenakan tradisional, sarung.

Saat itu Gontor berbeda, menjadi pesantren modern dengan identitas pendidikan formal dan agama, disertai penggunaan dua bahasa Arab dan Inggris aktif. Cara berpakaian pun berbeda. Mengikuti waktu dan tempat. Tidak selalu memakai sarung, kalau olahraga memakai pakaian olah raga. Kalau ke kelas menggunakan kemeja dan celan. Begitu seterusnya.

Seiring berjalannya waktu banyak sekolah bermunculan dengan fasilitas yang mewah. Gontor justru memakai pola berbeda, tetap sederhana. Modernnya di mana?

Ternyata yang dimaksud modern, terutama di era millenial adalah kemampuannya untuk menghadapi persaingan global. Dengan dua bahasa yang dimiliki, dan kemampuan otodidak tinggi yang dimiliki santri, alumni Gontor di manapun bisa beradaptasi.

Oleh sebab itu alumninya sangat variatif sekali. Tidak selalu di bidang agama. Ternyata ini yang dimaksud modern, bukan fasilitas. Santri Gontor memiliki kunci untuk membuka banyak pintu.

Pendidikan Pesantren Gontor

Pesantren Gontor memiliki kurikulum sendiri yang tidak mengikuti Depag, atau Diknas. Kurikulumnya disebut dengan Kulliyatul Mua’allimin al Islamiyah (KMI). Tempat para guru-guru Islam. Kalau dilihat dari sini tujuan Pesantren Gontor mendidik para guru.

Ternyata pesan kyainya adalah, “Di mana pun berada, kewajiban kalian mengajar”. Kami konfirmasi ke alumni, seperti KH. Hasyim Muzadi, meskipun menjadi pimpinan organisasi besar, tapi beliau tetap mengasuh pondok pesantren, mengajar.

KMI berjalan dari pukul 07:00 sd 12:30. Pendidikan yang ada di dalamnya adalah pendidikan formal dan agama Islam. Ada IPA, IPS. Tapi integral dalam satu kurikulum. Pendidikan agamanya juga cukup banyak.

KMI didisain sebagai dasar pengetahuan santri yang ingin belajar ke mana pun. Ke Barat, atau ke Timur. Din Syamsudin ke Amerika, Hidayat Nur Wahid ke Timur Tengah, semua dari Gontor. Karena kurikulum ini.

Kelasnya masih kelas besar, ukuran satu kelas 40 orang. Gurunya masih memakai papan tulis sampai sekarang.

Dengan kurikulum ini, tidak naik kelas adalah hal yang biasa. Hasil diskusi kami dengan ust. KMI Gontor Putri Kediri, ada sekitar 20% setiap generasi yang tinggal kelas. Bahkan ada yang sampai sembilan tahun menghabiskan masa pendidikan yang seharusnya hanya enam tahun.

Tapi awal pelaksanaan pendidikannya berbeda, Syawwal, atau selepas idul fitri. Biasanya banyak yang sudah siap-siap sejak bulan puasa. Karena pendaftarannya memiliki waktu berbeda.

Kegiatan Harian di Pesantren Gontor

Menurut kami pendidikan sebenarnya di Gontor justru di kegiatan harian dari bangun tidur hingga tidur kembali. Kegiatan harian di Gontor didisain sedemikian rupa sebagai pendidikan informal. Kami sebutkan beberapa karakter pendidikan informal.

Pendidikan kepemimpinan. Di Gontor adalah tempat orang berorganisasi. Dari yang terkecil, sampai yang terbesar. Dari kamar yang hanya berjumlah 12 orang, sampai organisasi siswa yang berjumlah 700 orang.

Setiap anak pasti merasakan menjadi ketua, sekretaris, atau bendahara, kamar, kelas, konsulat, atau apa saja. Paling tidak menjadi anggota organisasi. Di sinilah Gontor melantik santri untuk memiliki tanggung jawab. Karena jika organisasi bersalah ketua dan para anggotanya diberikan hukuman keras.

fasilitas pondok pesantren Gontor

Pendidikan kedisiplinan. Waktu di Pesantren Gontor sangat ketat. Satu waktu bisa sangat sepi, artinya semua sedang di kelas. Tidak pernah di Gontor ada waktu tidak seragam. Sangat ramai, artinya sedang kegiatan non formal. Terlambat lima menit, hukuman kembali hadir.

Di sinilah santri dilatih manajemen waktu secara mandiri. Waktu makan harus sekian menit. Waktu tidur harus sekian menit. Ketat sekali. Kalau ke Pesantren Gontor lihat santri diberdirikan, itu hal yang biasa.

Pendidikan sosial. Di Pesantren Gontor setiap santri dididik untuk bersosialisasi dengan banyak suku dan budaya. Tidak pernah setiap santri ditempatkan dalam satu ragam suku. Harus dipisah-pisah. Di sinilah adaptasi berjalan. Setiap kamar tidak boleh semua satu daerah. Harus berbeda. Cara menyikapi orang lain menjadi hal penting di Pesantren Gontor. Di sinilah dilatih kedewasaan.

Karena selalu dibentuk dalam satu grup besar, kamar 15-30 orang, kelas 40 orang, grup pramuka olah raga 10-30 orang, maka yang terjadi adalah santri Pesantren Gontor dididik untuk dilatih cara bersimpati dan berempati. Kepekaan sosial menjadi hal penting. Kalau sakit, jenguk sama-sama, walaupun nanti dihukum karena kelebihan waktu. Ini sudah didisain.

Fasilitas Santri di Pesantren Gontor

Biasanya banyak orang tua yang mencari lembaga pendidikan, yang utama diperhatikan adalah fasilitas. Jika demikian bukan Pesantren Gontor tujuannya. Gontor tidak memberikan fasilitas yang wah. Bahkan sangat sederhana.

Kamar memakai kasur lipat, bukan ranjang, almari kotak kayu biasa. Kamar mandi seperti di pom bensin, antri sama-sama. Begitu juga dengan di dapur, harus antri. Bahkan untuk kelas pun bangkunya masih yang panjang.

Lihat lengkap: Fasilitas Pondok Pesantren Gontor

Makan pun demikian, hanya cukup saja. Tidak selalu telor, kadang kerupuk, kadang tempe. Tempat makan bersama-sama. Bawa piring bersama-sama.

Kesederhanaan menjadi salah satu filosofi Gontor. Kesederhanaan dididik agar setiap santri mampu menghadapi segala macam jenis kehidupan. Pemimpin selalu lahir dari keprihatinan. Bukan dari kemewahan. Pendidikan ini yang menjadi nyawa Pesantren Gontor.

Anda akan melihat, santri tidur berjejer di kamar seperti di pengungsian. Biasanya kegagalan anak masuk Pesantren Gontor karena orang tua tidak tega melihat anaknya sedikit lebih susah.

Alumni Pesantren Gontor

Menurut kami yang paling unik adalah alumni dari pendidikan Pesantren Gontor. Meskipun namanya pesantren, tapi alumninya sangat variatif sekali. Dari agamawan, seperti Ustadz Bachtiar Nasir, akademisi seperti Prof. Roem Rowi, pimpinan pondok pesantren seperti KH. Fauzi Tidjani, atau politisi seperti Hidayat Nurwahid, semua dari Gontor.

Bahkan pengusaha tidak terhitung, hampir di banyak daerah pengusaha-pengusaha besar ada yang lahir dari Gontor, di Gresik ada yang bernama Pak Bisri, itu pun dari Pesantren Gontor. Seniman juga banyak, seperti penulis Ahmad Fuadi. Dan semuanya sukses di kancah nasional. Bukan lokal.

Alumni inilah sesungguhnya representasi dari kurikulum lembaga pendidikan. Kemampuan menembus batas zaman untuk menjadi manusia terdepan adalah hal yang istimewa. Dari sinilah kita bisa menilai Pesantren Gontor.

Biaya Pesantren Gontor

Pesantren Gontor memiliki biaya yang cukup murah. Bahkan termasuk pesantren murah berkualitas. Untuk biaya masuk sekitar 6 juta. Adapun bulanannya Rp. 650.000,-an sudah termasuk makan tiga kali.

Adapun uang saku terpisah, tergantung pola hidup setiap anak. Jika sangat aktif organisasi, biasanya ada iuran. Jika sangat aktif jajan, maka cepat habis. Jika kehidupannya standard, dalam hitungan kami, Rp. 600.000 cukup untuk satu bulan.

Saran kami jika masuk Gontor siapkan dana sekitar Rp. 8.000.000,- karena yang tertera belum termasuk pembelian ember, atau alat-alat lainnya.

Cara Masuk Pesantren Gontor

Jika ingin masuk Pesantren Gontor, saran kami ikuti terlebih dahulu bimbingan-bimbingan belajar untuk masuk Pesantren Gontor. Biasanya diadakan oleh ikatan alumni Pesantren Gontor. Ujiannya adalah baca tulis Al Quran, berhitung, bahasa Indonesia, dan tes kesehatan.

Jika sudah lebaran, siap-siap untuk berangkat, rata-rata ujian dilaksanakan pada 10 Ramadhan. Tidak pasti lulus lho. Makanya harus bersiap-siap. Namun rasio kelulusan standard. Biasanya yang daftar 3000 yang lulus 2000, atau rasionya 3:2. Tiap tahun bisa berbeda.

Kalau laki-laki semua ke Ponorogo, meskipun Gontor banyak cabang. Selepas tes baru dipisah-pisah, ada yang ke cabang Kediri, Banyuwangi, atau bahkan ke Magelang. Adapun yang putri di Mantingan Ngawi.

Saran kami harus ada yang mendampingi, khawatir tidak lulus, nanti kebingungan.

Kekurangan Pesantren Gontor

Meskipun sudah sangat terkenal, tentu Gontor punya kekurangan. Pertama dari aspek waktu pelaksanaan pembelajaraan yang tidak sama dengan waktu pada umumnya. Bagi sebagian orang ini tidak pas. Namun rata-rata pondok pesantren yang cukup kuat kurikulumnya memang memulai masa pembelajaran dengan kalender Islam, seperti Sidogiri dan Langitan.

Kedua, seleksi alamnya terlalu ketat. Masuk Gontor tidak begitu sulit. Tapi bertahan di Pesantren Gontor harus butuh banyak doa. Seperti di pondok pesantren pada umumnya. Kunci sebenarnya adalah banyak teman.

Inilah review sekolahpesantren.id tentang Pesantren Gontor. Jika ada ketidaksesuaian atau pertanyaan, bisa cantumkan di kolom komentar.

website resmi Gontor bisa dikunjungi di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *