Anehnya Kurikulum Gontor

pesantren terbaik di Indonesia
Santri Gontor berkumpul di depan masjid dan aula

Berbicara pesantren Gontor, maka kita juga harus berbicara tentang kurikulum yang ada di dalamnya. Karena kurikulum Gontor sangatlah berbeda dengan kurikulum-kurikulum pendidikan yang ada pada umumnya. Bukan pula mengikuti diknas, atau depag, tapi meramu sendiri.

Oleh sebab itu pada kesempatan kali ini penulis akan membahas tentang kurikulum Gontor, salah satu pesantren terbaik di Jawa Timur, sesuai dengan pengalaman penulis berada di pondok tersebut selama enam tahun.

Kurikulum KMI Pesantren Gontor

Pesantren Gontor memiliki lembaga pendidikan yang bernama KMI atau yang berarti kulilliyatul mua’allimin al Islamiyah. Dalam arti sederhana, ini adalah tempat bersemayam para calon guru Islam. Sehingga dari hal ini pula diketahui bahwa inti pendidikan di Gontor menjadikan santri mampu mengajar.

Dasar inilah yang selanjutnya membuat ramuan pendidikan menjadi sangat berbeda. Tidak seperti diknas yang mengantarkan siswa pada kompetensi keilmuan tertentu, IPA atau IPS. Di pesantren Gontor justru langsung menunjuk kepada profesi, Guru.

Apakah semua santrinya kemudian menjadi guru? Jawabannya tidak.

Namun kehendak dari pendiri pesantren Gontor adalah, bahwa di manapun santrinya berada, agar mampu mengajarkan ilmu yang sudah diberikan. Mengajar itu wajib, ini tertanam pada setiap alumni.

KH. Imam Zarkasyi, pendiri Gontor, bahkan menyampaikan “Kalau tidak bisa mengajar, maka aku akan mengajar dengan pena”

Maka kurikulum pendidikan di Gontor yang fokus pada mencetak guru menjadikan di pembelajaran pesantren Gontor sangat erat dengan ilmu alat. Atau orang menyebutnya Gontor memberikan kunci. Karena guru pada hakikatnya adalah seorang pembelajar yang selalu merasa haus. Maka harus punya kunci untuk membuka semua pintu ilmu.

Kurikulum Gontor
Kurikulum Gontor – Santri sedang mengajar di kelas

Kurikulum Gontor Tanamkan Kunci Ilmu

Ketika di pesantren Gontor kami yakin tidak banyak santri yang menyadari proses penanaman kurikulum yang disebut ilmu alat. Sedari awal masuk pesantren Gontor santri sudah dicekoki bahasa.

Jika orang menyebutnya sebagai alat komunikasi. Menurut kami perspektif ini kurang tepat.

Gontor menanamkan bahasa tidak lepas dari sudut pandang sebagai alat pembuka ilmu pengetahuan yang sangat luas. Yaitu jenjang kelas dua hingga kelas enam, hampir semua mata pelajaran disuguhkan menggunakan bahasa arab dalam materi keislaman.

Sederhananya, jika santri tidak bisa bahasa arab akan kesulitan menempuh pendidikan selama enam tahun. Maka kunci pertama dari kurikulum Gontor adalah bahasa. Penanaman ini dilakukan aktif di kelas dan luar kelas. Gontor fokus, hanya bahasa di awal.

Caranya, di kelas secara teori, nahwu, sorf. Di asrama adalah kosa kata dan latihan bicara. Maka semua bisa ditempuh dalam jangka waktu enam bulan, untuk bahasa arab.

Biasanya timbul pertanyaan apakah bahasa arabnya mendalam? Jawabannya lagi-lagi kembali pada filosofi dasar, memberikan kunci pengetahuan. Maka ketika kelas satu, bahasa arabnya untuk membuka kunci pengetahuan dasar di kelas satu. Maka tidak terlalu dalam. Tapi bisa, dan mampu.

Kurikulum Gontor Dwi Bahasa

Uniknya adalah, ketika kemudian penanaman bahasa Arab begitu tajam, ternyata kurikulum Gontor tidak berhenti di situ. Ada bahasa Inggris. Orang dulu menyebutnya bahasa orang kafir. Tapi Gontor meyakini, pintu membuka dunia ada di bahasa inggris. Di era millennial hal ini terbukti. Yang manguasai bahasa Inggris menguasai dunia.

Caranya, sama dengan bahasa arab. Ada pendidikan formal di kelas. Ada pendidikan non formal di asrama. Waktunya di semester kedua. Mereka pada akhirnya mampu berkomunikasi aktif. Bahasa Inggris ini menjadi bekal sebagai kunci penting.

Kalau dikatakan porsi, tentu sebagai pesantren porsi Gontor lebih banyak bahasa Arab. Tapi kalau kemudian dikatakan bahasa inggris seluruh santri lemah, juga tidak benar. Di sini keistimewaan Gontor mengolah passion santri.

Seiring berjalannya waktu, akan muncul santri-santri yang memang lidahnya lebih suka ngomong bahasa Inggris. Jumlahnya banyak. Mereka fokus melalui komunitas-komunitas kecil santri. Maka ada santri yang bahasa arabnya hebat, tapi bahasa inggrisnya biasa.

Ada juga santri yang bahasa inggrisnya hebat, bahasa arabnya biasa. Ada juga yang dua-duanya hebat, meskipun tidak banyak. Di sinilah yang mengantarkan santri Gontor kemudian memiliki kiblat melanjutkan ke Barat atau Timur.

Anehnya Kurikulum Gontor

Tapi ada keanehan di kurikulum Gontor. Setelah setiap santri diberikan kunci yaitu bahasa arab dan inggris, Gontor justru tidak memberikan ilmu pengetahuan mendalam di salah satu bidang. Misalkan fiqh sampai khatam bidayatul mujtahid. Atau nahwu sampai alfiyah. Tidak sedahsyat itu. Ini yang unik.

Gontor justru memberikan semua, tapi sedikit-sedikit. Jadi pelajarannya sangat banyak. Kami ingat, pelajaran di Gontor jauh lebih banyak dari yang ada di diknas atau depag. Jumlahnya belasan. Dan itu materi pokok semua. Tidak ada namanya materi UAN dan Non UAN. Semua dilahap.

Maka kyai pun mengatakan, “Kalau mau ilmu agama mendalam, di pesantren salaf. Kalau mau bahasa inggris bagus, di sekolah-sekolah formal. Gontor hanya memberikan kunci.”

Tafsiran dalam kurikulum pada akhirnya santri Gontor mengetahui sangat banyak ilmu, tapi sedikit-sedikit. Contoh, santri Gontor belajar Bidayatul Mujtahid. Tapi paling bab depan saja. 30% dari buku pun tidak sampai. Kata ustadz, “Agar kalian tahu cara berijtihad”.

Terus fiqh, yang disodorkan bukan buku fiqh yang tebal tebal. Tapi justru ushul fiqh. Kemudian terkait hadist, bulughul maram. Tidak fokus pada satu riwayat, atau sanad. Pokoknya dasar-dasar.

Tapi semua diajarkan, dari ilmu tarbiyah, ilmu mustolah hadist, ilmu balaghoh, ilmu tarikh islam, ilmu motivasi ya ada, namanya mahfudzot, bahkan perbandingan agama sudah diajarkan. Geleng-geleng saya waktu jadi santri, banyak sekali pelajarannya. Tata Negara juga ada, kalau di pesantren putri, ada tambahan nisaiyah, keputrian.

Total pelajaran untuk kelas lima, sekitar 25 mata pelajaran. Kalau ada kritikus pendidikan, ini kurikulum menyiksa otak anak, maka Gontor saya yakin tidak bergeming, dari dulu sampai sekarang ya demikian.

Maka ada prinsip santri pesantren Gontor harus tahu semuanya, tapi sedikit-sedikit. Itu benar. Maka kalau ada yang ingin adu kanuragan keilmuan hadist secara mendalam, santri Gontor masih proses belajar.

Porsi Pendidikan Formal di Gontor

Sering orang bertanya, pendidikan formal di Gontor bagaimana. Ini juga unik. Gontor sudah memiliki keyakinan, bahwa materi pembelajaran formal hanya terpacu pada beberapa materi pelajaran. Tidak semua. Yang penting-penting, yaitu Matematika, Fisika, Kimia.

Materi-materi ini selalu ada di setiap jenjang kelas. Kecuali kelas satu. Tidak semua diajarkan. Untuk matematika saja tidak. Yang diajarkan adalah berhitung. Unik. Karena fokus kelas satu menanamkan bahasa pada santri. Maka lihat lebih dalam tentang materi yang diajarkan di kelas 1 Gontor, lebih banyak unsur pembelajaran bahasa.

Biasanya ada dugaan, santri Gontor pendidikan formalnya lemah. Tidak benar, karena juga belajar fisika sampai kelas enam. Biologi juga diajarkan.

Tapi kalau ada yang mengatakan santri Gontor pendidikan formalnya hebat, itu terlalu melebihkan. Gontor kembali ke prinsip, semua diajarkan sebagai alat saja, bukan sebagai ilmu yang mendalam.

Gontor Hanya Ada Kelas 1-6

Di pesantren Gontor, kelas tidak sama seperti di pendidikan umum. Ada kelas 3 SMP, atau kelas 11, 12. Di Gontor menganut kelas 1 hingga 6. Kecuali lulusan SMP, maka ada kelas intensif, yaitu 1, 3, 5, dan 6. Jenjangnya demikian.

Untuk jenjang SMP, tidak mengalami kelas 2 dan 4. Tapi materinya akan diajarkan, hanya pendidikan formal yang sudah dipelajari di SMP ditiadakan. Yang dikejar adalah pendidikan agama, materi-materi pesantren.

Jika Anda dari pesantren, sudah belajar hingga kelas 1 aliyah, kemudian mau masuk kelas 4, boleh saja asalkan lulus tes. Jika tidak, maka bisa kembali ke kelas 1 intensif.

Kurikulum Gontor Mendidik Menjadi Guru

Sesuai namanya kurikulum pesantren Gontor justru fokus mencetak guru. Caranya patut dicontoh. Setelah dibekali yang namanya alat pengetahuan, Gontor membekali santri dengan ilmu pendidikan, tarbiyah wat ta’lim. Kemudian dijeburkan ke dalam praktek mengajar.

Pertama, Gontor membekali santrinya memiliki kemampuan berbicara di depan. Ada latihan pidato setiap seminggu dua kali. Sehingga santri tidak canggung untuk berbicara di depan. Ini modal guru yang paling mahal.

Kedua, santri diterjunkan pada praktik mengajar. Kelas lima, santri sudah diterjunkan untuk mengajar kelas 1,2,3, dan 4 untuk materi pelajaran sore di kelas. Sehingga muncul yang namanya pengalaman mengajar.

Ketiga, ketika berada di jenjang kelas enam, ada praktik mengajar sebagai syarat kelulusan. Kalau belum benar harus mengulang, namanya Amaliyah Tadris. Setiap santri harus lulus. Tidak boleh gagal. Maka setiap santri harus bisa mengajar dengan benar.

Terakhir, santri Gontor wajib mengabdi satu tahun dalam bentuk pengabdian di lembaga-lembaga, umumnya adalah lembaga pendidikan. Sehingga santri Gontor terbiasa mengajar.

Kekurangan Kurikulum Gontor

Setiap kurikulum pasti ada kekurangan. Tidak mungkin sempurna. Kurikulum pesantren Gontor memiliki kelemahan dalam aspek pengetahuan yang tidak begitu mendalam. Memang sudah didisain demikian. Maka istilah sederhananya, santri Gontor harus belajar lagi.

Hasyim Muzadi, keliling ke pesantren salaf. Atau Prof. Din Syamsudin yang melanglang buana di pendidikan formal hingga ke Amerika.

Maka kurang tepat juga jika ada santri Gontor yang terlalu bangga dengan ilmunya, pasti dimarahi kyai. Ilmu kamu secuil.

Maka alumni Gontor sangat berbeda dengan alumni dengan kurikulum dari sekolah umum atau pesantren lain yang sudah menguasai mata pelajaran tertentu. Gontor cuma memiliki kunci yang mencari objek pintu untuk dibuka.

Kelebihan kurikulum Gontor

Kurikulum yang didisain demikian menjadikan santri Gontor pada akhirnya sangat variatif sekali. Mereka sudah memiliki kunci. Tinggal ingin membuka pintu apa. Maka hampir semua santri Gontor bisa menekuni segala macam profesi.

Ketika ingin masuk kedokteran sudah belajar biologi. Bahasa inggris sudah dibekali. Tapi belajar sedikit lagi ya. Mungkin seperti ini tafsirannya. Kalau ingin menjadi ahli internet marketing, sudah dibekali bahasa inggris, belajar di youtube ya, dari silicon valley.

Maka jika bertanya profesi santri Gontor, sangat bermacam-macam, dari Guru hingga pengusaha. Dari professor hingga pimpinan pondok pesantren. Dari penulis sampai investor. Karena mereka memiliki kunci yang bisa membuka pintu.

Hal ini pula yang selanjutnya menjadikan santri Gontor mampu hidup di beragam zaman. Tidak butuh banyak penyesuaian. Istilahnya, jika kurikulum lain menghadirkan menu masakan, kalau Gontor membekali santri cara membuat ramuan masakan. Gontor membekali ilmu belajar, bukan pelajaran.

Maka kurikulum Gontor dari zaman kemerdekaan hingga millennial, sama. Tidak ada yang berubah. Kecuali perubahan materi formal seperti fisika, bilogi, yang memang setiap ganti menteri kadang berganti kebijakan.

Meskipun demikian Gontor sudah membuat buku ajar sendiri dalam materi formal.

Gontor tetap fokus pada kurikulum yang aneh, yaitu memberi kunci.

Rahasia Keberhasilan Kurikulum Gontor

Tapi pesantren Gontor punya satu rahasia yang sulit dilakukan di pendidikan yang lain. Ini yang menjadi kunci sukses jalannya kurikulum di Pesantren yang berdiri pada 1926.

Pertama, kesatuan antara pendidikan di kelas dan di luar kelas. Keduanya sudah didisain dalam satu kurikulum. Ada saling kerjasama. Contoh pendidikan bahasa. Di kelas ada pendidikan ilmu nahwu sorf, di asrama ada kosa kata.

Disadari atau tidak, hal ini tidak mudah dilakukan. Terkadang di banyak lembaga pendidikan, pengelolaan asrama dengan kelas justru berbeda. Maka arahnya tidak sama. Sehingga tidak menghasilkan percepatan pendidikan. Di pesantren Gontor hal ini sudah dikondisikan sehingga mampu melakukan percepatan-percepatan.

Kedua, di Gontor arah pendidikannya sangat jelas. Yaitu memilki filosofi pemberian kunci. Sehingga pihak internal tidak bingung dengan arah yang kadang berganti-ganti. Filosofi inilah yang membuat gerakan pendidikan di Gontor menjadi seragam.

Ketiga, Gontor tidak memiliki banyak fokus pendidikan. Pesantren Gontor memahami bahwa anak usia SMP dan SMA, tidak mampu menampung banyak target. Justru ketika banyak sekali beban, tidak menghasilkan apa-apa. Targetnya hanya punya kunci dalam bentuk bahasa dan mengetahui banyak ilmu meski sedikit.

Maka di Gontor tidak ada formal untuk tahfidz. Tapi kelompok tahfidz Quran banyak. Tapi tidak diwajibkan. Juga tidak diwajibkan menjadi saintis. Bahkan menjadi ahli hadist pun belum.

Kami beberapa kali sering menemukan, lembaga pendidikan yang memasang banyak target. Contoh, standard siswa adalah hafal Quran 20 juz, mampu menguasai bahasa Arab dan Inggris, kemudian menjadi Ahli Sains, Ahli Hadist. Saya kira akan kesulitan. Pada akhirnya justru seperti sebatas iklan, karena ketika kami masuk, komunikasi bahasa masih belum aktif, dan lain sebagainya.

Kiranya tulisan ini bisa pembelajaran bagi para pemerhati dunia sekolah dan pesantren, juga pemerhati perkembangan lembaga pendidikan.

Dengan segala kekurangan, kurikulum Gontor bisa menjadi rujukan lembaga pendidikan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *