KH. Bambang Sudarsono | Pesantren Al Khair Sebarkan Kebaikan

 

KH. Bambang Sudarsono
Pimpinan Pesantren Al Khair Ponorogo | KH. Bambang Sudarsono

Pesantren Al Khair Ponorogo mulai merintis lembaga pendidikan sejak tahun 2001. Kemudian pada tahun 2011 didaftarkan ulang di karena perubahan nama yayasan. Di balik perkembangan yang begitu pesat, nama KH. Bambang Sudarsono adalah kunci perkembangan salah satu pesantren terbaik di Ponorogo.

Laki-laki kelahiran Ponorogo 1948 ini sudah lama bercita-cita mendirikan pesantren. Apalagi beliau adalah alumni pesantren Gontor tahun 1967. Generasi tersebut bisa dikatakan sebagai generasi emas. Karena alumni tahun enam puluhan banyak yang menjadi pimpinan pesantren. Contoh KH. Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Gontor.

Ayah dari Nawab Syarif ini menempuh jenjang pendidikan di Madinah, kemudian dilanjutkan ke Islamabad Pakistan untuk jenjang strata dua. Pendidikan ini membuat pengetahuan keislaman menjadi cukup matang.

Dari Pakistan ke Pesantren Al Khair

Namun ternyata cerita hidup KH. Nawab Syarif justru dimulai di Pakistan. Beliau akhirnya menjadi staf KBRI Islamabad Pakistan hingga dihabiskan hampir setengah usia beliau. Bahkan keluarga pun dibawa ke Pakistan.

Maka nama KH. Bambang Sudarsono pasti akrab di telinga mahasiswa Indonesia yang kuliah di Islamabad. Beliau menjadi tempat singgah bagi mahasiswa Indonesia. Dari perjalanan menjadi staf KBRI, maka pemikiran sang kyai menjadi lebih luas. Ia harus bisa mencetak santri yang memiliki wawasan global, kemampuan global. Artinya santri yang bisa menembus batas-batas antar negeri.

Pulang dari Pakistan merintis pesantren bersama sang Istri, Hj. Zulfa Khairiyah. Bisa dikatakan mereka adalah sepasang suami istri di dunia pendidikan. Karena konon, dulu KH. Bambang mengizinkan sang istri untuk belajar sepuasnya di Pakistan.

Hj. Zulfa memang merasa, mendapatkan pendidikan yang layak seperti mencari jarum di jerami. Biayanya mahal. Pendapatan masyarakat tidak begitu bagus. Hingga kemudian Hj. Zulfa ingin mengangkat derajat masyarakat melalui pesantren.

Maka nama pesantren disebut Al Khair. Artinya kebaikan, ingin menyebarkan kebaikan, bagi siapa saja dan di mana saja. Kebaikan tersebut diwujudkan melalui pendidikan pesantren. Cita-cita sepasang suami istri ini menjadikan perjalanan pesantren begitu mapan.

Faktor utamanya sederhana, sang suami duduk bersama santri putra, dan sang istri mendampingi santriwati. Pesantren putra putri memang terpisah, bukan satu tempat bersama. Namun keduanya tekun dalam keyakinan bahwa santri putra dan putri tidak bisa disatukan.

Selain pendidikan keislaman, santri di pesantren Al Khair memiliki identitas dalam sentuhan Bahasa internasional. Mengingat keduanya memandang sangat penting bahasa bagi masa depan santri, maka setiap santri dikentalkan pendidikan bahasa Arab dan Inggris. Arab di kelas, Inggris di keseharian.
Unik karena pada akhirnya hal inilah yang menjadikan pesantren tersebut semakin dipercaya perlahan-lahan oleh masyarakat.

Pesantren Al Khair Ponorogo

Mengayomi Pesantren Al Khair Ponorogo

Karena santri masih berjumlah delapan puluhan, maka mereka semua diayomi seperti layaknya anak dengan orang tua. Bukan anak dengan pengasuh. KH. Bambang Sudarsono mengimami shalat santri, memberikan tausiyah. Mendampingi, bahkan sering keliling dari satu kamar ke kamar lain.

Apalagi rumah KH. Bambang Sudarsono tepat di jantung pesantren. Sehingga hal ini menjadikan ritme pendidikan terpusat di rumah sang kyai.

Relasi luas KH. Bambang Sudarsono membuat pesantren juga tumbuh dengan baik. Tentu tidak hanya relasi nasional, tapi sudah internasional. Menjangkau seluruh dunia. Perjalanan dakwah dari satu negara ke negara lain untuk menyiarkan agama Islam menjadi hal yang lumrah.

Dari sinilah ia bisa membantu santri melanjutkan pendidikan ke banyak negara yang diinginkan. Contoh ke Islamabad Pakistan. Maka kiprah alumninya cukup beragam di banyak negara. Seperti di Itali yang berkiprah di pelayaran. Juga di Cina yang melanjutkan studi.

Perjuangan KH. Bambang Sudarsono sudah melepaskan unsur pribadinya. Karena di usia kepala enam ia seperti menikmati hidup bersama santri pesantren Al Khair Ponorogo di Desa Jimbe, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo.

Aktivitas santri seperti peternakan dan perkebunan membuat pesantren menjadi lebih dan semakin hidup. Melihat santri terlihat aktiv merupakan satu kebahagiaan sendiri bagi KH. Bambang Sudarsono.

Terlebih pesantren dilewati sungai dengan aliran yang sedikit deras. Sehingga ada keindahan di pesantren Al Khair bagi siapa saja yang mondok, dan tinggal di pesantren.

Jika Anda ingin mengenal lebih dekat dengan pimpinan pesantren Al Khair Ponorogo, KH. Bambang Sudarsono, jangan sungkan untuk silaturahim ke rumah di tengah pesantren, karena di situlah energi utama pesantren Al Khari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *