Santri Sudah di Eropa | Pesantren Al Khair Ponorogo

Pesantren Al Khair Ponorogo – Berawal dari kisah sepasang suami istri yang mengendarai mobilnya kemudian mogok. Istrinya pada akhirnya mendorong sendirian, tapi dalam hati gelisah karena melihat banyak anak seusia 13-15 tahun hanya duduk-duduk melihat saja.

Tidak ada rasa peka, tidak ada rasa iba, begitu hancurkah generasi Indonesia saat ini? Gumam sang ibu dalam hati.

Hingga di sepanjang perjalanan sepasang suami istri tersebut bertekad mendidik santri menuju kebaikan. Agar berakhlaq agar memiliki niat baik yang selalu dirindukan masyarakat. Maka pondok pesantren tersebut bernama Al Khair Ponorogo. Yang berarti kebaikan.

Inti dari pendidikan di pesantren memang mengajarkan akhlaqul karimah, akhlaq mulia. Akhlaq kepada sesama manusia, akhlaq kepada lingkungannya, juga terutama akhlaq kepada Allah SWT

Sejarah Pesantren Al Khair Ponorogo

Bambang Sudarsono dan sang istri Hj. Zulfa Khairiah bertekad kuat bersama-sama mendirikan pesantren. Caranya santri dicari, tidak ditunggu. Dijemput ke pelosok-pelosok desa menggunakan mobil. Yang mau sekolah, gratis.

Satu pintu diketuk, satu pintu lagi diketuk. Ternyata tidaklah mudah. Tidak semua masyarakat mau menerima tawaran pendidikan gratis tersebut. Bahkan justru dikira macam-macam. Tidak patah semangat, pesantren pun pada akhirnya dimulai.

Pesantren Al Khair Ponorogo
Santri Pesantren Al Khair Ponorogo

Profil Pendiri Pesantren Al Khair Ponorogo

Pendiri pesantren di Ponorogo ini memang istimewa. KH. Bambang Sudarsono merupakan alumni pesantren Gontor tahun 1967. Sehingga pengetahuan tentang manajemen pesantren dan santri begitu menguasai.

Sosok yang akrab dipanggil Kyai Bambang ini melanjutkan studinya di Madinah, kemudian S2 di Pakistan. Beliau tidak langsung pulang, justru menetap menjadi KBRI Islamabad Pakistan bersama sang istri. Bahkan sang istri menjadi pengajar di Academy Militer Islamabad Pakistan.

Karir internasional dari sepasang suami istri ini sangat mewarnai kiprah pesantren. Terutama berkaitan dengan warna pendidikan. Mereka berdua menginginkan bahwa pendidikan di pesantren harus mengantarkan santri bisa berkiprah di dunia internasional.

Tidak hanya di Indonesia, harus menyebar ke dunia. Cita-cita cukup tinggi ini kemudian lebih ditelaah lebih dalam lagi. Santri harus bisa menyebar ke seluruh dunia untuk menyebarkan Islam, atau melanjutkan studi dengan dasar kepribadian Islam yang kuat.

Maka salah satu identitas kuat pendidikan di pesantren Al Khair Ponorogo adalah pendalaman bahasa Inggris. Unik, karena biasanya justru pendalaman bahasa arab, tapi di pesantren ini bahasa Arab sudah hal lumrah di kelas, tapi komunikasi keseharian harus lancar bahasa Inggris. Kami pun takjub melihatnya.

Kegiatan di Pesantren Al Khair Ponorogo
Salah satu kegiatan di Pesantren Al Khair Ponorogo

Kurikulum Pesantren Al Khair Ponorogo

Uniknya di pesantren ini memiliki kurikulum menggabungkan antara kemenag dengan pendidikan di Gontor. Sedangkan pola hidup keseharian menggunakan pola salafiah.

Maka dari sisi santri, mereka memiliki kemampuan keagamaan yang cukup tapi juga kuat di ilmu umum, terutama materi-materi pokok seperti MIPA. Sedangkan dalam aspek pola hidup mereka diajarkan untuk hidup sesuai dengan sunnah rasul.

Contoh, di pesantren ini diajarkan amalan sunnah dan dituntun praktiknya. Seperti cara makan. Cara menyapa orang, dan lain sebagainya. Kiblat dari pendidikan demikian kalau kami lihat adalah pesantren Temboro. Tentu hal ini menjadi inti dari arti kebaikan (Al Khair) itu sendiri. Boleh dikatakan persoalan adab, menjadi titik utama.

Sedangkan dalam aspek pengaturan waktu mengikuti Gontor yang sangat ketat. Jam sekian harus ini, jam sekian harus ini. Harus tidur, makan harus selesai, dan lain sebagainya. Sehingga santri harus terbiasa dengan disiplin. Di sinilah kepemimpinan akan muncul.

Yang menarik adalah aspek komunikasi. Dominasi pendidikan bahasa Inggris cukup kental di pesantren ini. Untuk yang putri, langsung ditangani bu nyai Zulfa. Saya mendengar sendiri komunikasinya memakai bahasa inggris. Lidahnya sudah terbentuk.

Sedangkan di putra, yang santrinya sudah banyak, dibantu oleh wakil para pengasuh, guru-guru yang berasal dari Islamabad Pakistan, Gontor, Temboro, Yaman.

Disiplin waktunya sudah teratur. Tandanya ketika waktu shalat semuanya sepi, waktu belajar juga sepi, waktu bermain, ramai, seragam, tidak acak. Artinya pola pengaturan keseharian sudah stabil.

Salah satu kelebihan yang perlu dipertimbangkan adalah program tahfidz Quran. Catatannya, pesantren ini bukanlah pesantren tahfidz Quran. Lebih menyiapkan santri untuk berkiprah di dunia internasional. Namun demikian tahfidz Quran menjadi kurikulum yang bisa diikuti oleh beberapa santri. Satu tahun targetnya 2 juz. Cukup bagus.

Santri Putra di Pesantren Al Khair Ponorogo

Kiprah Alumni Pesantren Al Khair Ponorogo

Bila kita ingin melihat profil pesantren, cukup lihat alumninya. Kalau alumninya kiprahnya bagus, maka pendidikan di pesantren tersebut bisa dikatakan cukup baik. Al Khair, meskipun tergolong pesantren muda di wilayah Ponorogo tapi alumninya sudah tersebar ke penjuru dunia sesuai amanat pimpinan pesantren.

Contoh Ali Rohman yang berada di Negara Itali, karir alumni 2013 ini sudah mencapai Eropa. Muhammad Bahadur Afifi alumni 2015 mengikuti jejak sang pendiri pesantren yang melajutkan di Islamabad.

Satu lagi justru berada di negeri China yaitu Zakki Ramadhan. Alumni tahun 2016 ini mengikuti anjuran tuntutlah ilmu hingga ke negeri China. Dengan kata lain pesantren ini memang mengajarkan keberanian, dan modal utama yaitu  bahasa untuk berkiprah di level dunia.

Fasilitas di Pesantren

Berbicara fasilitas, pesantren ini cukup memadai. Dibelah sungai yang cukup jernih menjadikan pesantren begitu asri dengan udara yang cukup sejuk. Jika malam-malam suaranya terdengar keras.

Terlebih pesantren ini dekat dengan telaga Ngebel.Juga dekat dengan terminal Ponorogo. Hanya butuh waktu sekitar 8-10 menit menuju pesantren tersebut.

Berbicara masalah kamar, seperti layaknya di pesantren modern Gontor. Satu kamar untuk beberapa orang, dengan almari dan kasur lantai yang bisa dibuat tidur dengan nyaman. Di atas lahan sekitar 2 hektar, pesantren di pelosok desa ini mengajarkan ilmu agama, berkomunikasi dengan bahasa inggris, karena ingin menyapa dunia.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *