Sejarah Sekolah Al Hikmah Surabaya

Al Hikmah Surabaya – Pada tahun 80-an, sekolah Islam memiliki stigma cenderung negatif, kumuh, tertinggal, tidak berprestasi, dan lain sebagainya. Jika menyebut sekolah unggulan ketika itu maka yang berada dipikiran masyarakat adalah sekolah Negeri atau Kristen. Sedangkan sekolah Islam belum menjadi alternatif, apalagi pilihan.

Di tahun yang hampir bersamaan 1980-an, geliat Islam di Surabaya tumbuh. Terutama dari masjid Al Falah. Kajian-kajian di masjid Al Falah ketika itu mendatangkan tokoh seperti Amin Rais. Padahal semasa itu belum banyak masjid yang mendatangkan kajian dari tokoh-tokoh besar.

Dari masjid ini pula lahir Yayasan Dana Sosial Al Falah pada 1987  sebagai lembaga dana umat Islam yang memiliki cita-cita menyalurkan dana untuk program peningkatan kualitas umat Islam. Abdul Kadir Baraja selaku ketua Pembina sekolah Al Hikmah didapuk sebagai wakil yayasan tersebut.

Ide Sekolah Al Hikmah Surabaya

Ide yang paling hangat digodok dari yayasan dengan 70.000 donatur ini adalah bagaimana meningkatkan pendidikan di sekolah Islam. Jika sekolah Islam kualitasnya naik, maka umat Islam pun terangkat, karena mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam. Lahirlah ide membentuk sekolah Islam percontohan. Stigma negatif harus digeser.

Dari awal, yang diinginkan bukan sekolah bagus, atau sekolah unggulan, tapi sekolah percontohan. Jika membentuk sekolah bagus, maka yang lahir tidak akan banyak, hanya satu sekolah saja. Tapi kalau sekolah contoh, maka akan banyak yang tumbuh dengan kualitas yang hampir sama. Imbasnya, kualitas sekolah umat Islam akan bergerak secara vertikal dan bersamaan.

sejarah Al Hikmah Surabaya

Filosofi yang ditularkan adalah seperti ragi. Menghasilkan ragi yang bagus akan berimbas pada lahirnya tape-tape yang bagus. Efek dominonya akan besar. Jangan hanya membuat tape yang bagus, dimakan akan habis.

Ir. Abdulkadir Baraja, Syafiq Gadi, dan Taufik Baya’sut bersama-sama mewujudkan ide brilian ini yang dibantu oleh Nur Hidayat pada tahun 1987. Tujuannya jelas, membentuk sekolah berkualitas yang mudah dicontoh.

Pada akhirnya tujuan ini menjadi misi Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Al Hikmah  hingga sekarang “Menjadi lembaga pendidikan Islam yang layak dan mudah dicontoh”.

Artinya harus menjadi sekolah Islam model. Cita-cita menjadi sekolah model dirumuskan terdiri dari tiga unsur, lebih baik, menjadi contoh, dan lebih inovatif secara berkelanjutan. Sehingga Sekolah Al Hikmah Surabaya dari awal berpikir bagaimana menjadi sekolah yang memiliki tiga unsur tersebut. Tidak boleh berhenti berinovasi dan berkreasi.

Menyiapkan Guru Sekolah Al Hikmah Surabaya

“Langkah pertama dari keberhasilan lembaga pendidikan sangat ditentukan bagaimana guru di dalamnya. Penyeleksian guru menjadi faktor mendasar, menjadi kunci langkah-langkah selanjutnya, maka bukan fisik yang kami fikirkan ketika itu, tapi guru,” tutur Ust. Abdulkadir Baraja.

Laki-laki kelahiran Solo 1954 ini menyiapkan guru dengan cara menggodok calon guru di asrama mahasiswa. Letaknya di Ketintang untuk mahasiswa IKIP Surabaya (UNESA). Di asrama itu yang ditanamkan adalah nilai-nilai keislaman melalui kajian tafsir, keseharian dihiasi dengan diskusi-diskusi.

Memang program asrama mahasiswa ini memiliki nilai sebagai bahan bakar sekolah-sekolah Islam. Harapannya, dengan hadirnya guru berkualitas, maka akan lahir pula sekolah berkualitas. 5 di antara alumni asrama ini kemudian menjadi tenaga di sekolah Al Hikmah Surabaya.

Guru dari asrama ini melengkapi nuansa pendidikan sekolah Al Hikmah Surabaya. Di mana guru-gurunya ratanya memiliki latar belakang keislaman yang baik. Beberapa di antaranya adalah alumni remaja masjid Al Falah. Oleh sebab itu sekolah Al Hikmah Surabaya dari awal memiliki tenaga-tenaga pengajar dengan nilai-nilai Islam yang baik.

Melalui guru-guru tersebut perhatian kepada siswa tidak hanya aspek pendidikan. Tapi juga aspek moral, karakter. Di 1990-an hal itu menjadi sesuatu yang langka. Dulu sekolah hanya belajar pelajaran formal. Tidak banyak sekolah yang menanamkan nilai-nilai keislaman karena sudah ada TPA dan madrasah.

Namun sekolah Al Hikmah berusaha menyelaraskan hal tersebut dalam satu model pendidikan. Guru menjadi salah satu kunci bagaimana sekolah Al Hikmah mampu melaksanakan visi misi sekolah Islam percontohan sedari awal.

Fisik Seadanya

Belum ada tanah apalagi kelas. Bisa dikatakan “Tak ada rotan akar pun jadi” menjadi prinsip yang tidak bisa dielakkan. Maka masjid Gayungsari, menjadi pilihan. Terlebih awal peradaban dalam Islam dimulai dari masjid.

Tapi bukan ruangan utama masjid. Ruangan kecil di sudut masjid yang awalnya menjadi tempat keranda. Kerandanya dikeluarkan kemudian sebagian ruangan ditutup dengan ‘bedeng’ (tirai), jadilah kelas. Kalau hari Jum’at, tirainya dibuka, ruangan kelas disulap lagi jadi tempat shalat berjama’ah.

Tepatnya di tahun 1989. Lembaga pendidikan Islam Al Hikmah memulai kegiatan belajar mengajar di masjid tersebut. Murid perdananya hanya 13 siswa, 2 guru, 1 Tu, dan 1 tukang kebun. Muridnya dicari. Bukan tiba-tiba datang. Semua belum mengenal Al Hikmah.

Terlebih era itu informasi tidak begitu cepat, belum ada handphone, apalagi internet. Lebih banyak informasi tentang sekolah berkembang dari mulut ke mulut. 13 siswa sudah cukup menjadi muqaddimah perjalanan panjang Al Hikmah.

Semangat terus tumbuh. Salah satu kuncinya adalah keyakinan bersama para pendiri sekolah. Antusiasme wali murid juga tumbuh melihat anaknya bisa bersekolah di sekolah Islam.

Bisa dikatakan pengurus ketika itu meyakini kebenaran dari visi yang sudah ditetapkan bersama. Belum ada sekolah Islam percontohan, harus diciptakan untuk mengangkat martabat umat Islam. Sehingga energi positif terus tumbuh. Keyakinan inilah yang mendorong kuat perjalanan Al Hikmah di masa-masa awal meski hanya berawal dari ruang kecil di sudut masjid Al Hikmah.

Ide Full Day School Sekolah Al Hikmah Surabaya

Tidak berpuas diri, cita-cita menjadi sekolah model yang terdiri dari tiga unsur, lebih baik, menjadi contoh, dan lebih inovatif dari sekolah yang lain perlahan diwujudkan dengan cara studi banding ke luar negeri.

Salah satu negara tujuan di antaranya adalah Singapura. Negara ini dikenal tumbuh pesat karena mengistimewakan guru. Ust. Abdulkadir Baraja selalu bercerita, beliau ke Singapura sekitar 80-an, pernah antri untuk naik taxi. Jika ada yang nyerobot antri semua akan protes.

Ketika itu giliran laki-laki yang kini menjadi ketua pengurus YDSF untuk naik taxi. Tiba-tiba ada ibu-ibu nyerobot antrian. Ustadz Kadir protes, tapi langsung ditegur, “She is a teacher.”

Ketua Yayasan Dana Sosial Al Falah itu pun termanggut-manggut dan terinspirasi betapa mulianya guru di negeri itu.

SMA Al Hikmah Surabaya

“Namun ide sekolah full day didapatkan dari Kuala Lumpur, tepatnya dari sekolah Al Amin. Yang ditiru adalah filosofinya. Jika orangtua bekerja seharian, sedangkan anak hanya sekolah setengah hari, maka sisanya akan dididik oleh layar kaca, atau masyarakat jalanan,” jelas Ust. Abdulkadir yang mendapatkan gelar Doktor Honouris Causa dari UNESA dalam bidang manajemen pendidikan.

Sehingga Al Hikmah mencetuskan sekolah full day school dari pukul 07:00 hingga 15:45 untuk jenjang sekolah dasar di tahun 1991. Al Hikmah menjadi salah satu pelopor di Indonesia sebagai sekolah full day school yang menyentuh siswa dengan pendidikan karakter dan mewarnai siswa dengan nilai-nilai keislaman sepanjang hari.

Namun demikian ide ini mendapatkan pertentangan di awal-awal pelaksanaan pendidikan. Beberapa ahli pendidikan memberikan kritik karena dianggap merampas hak istirahat dan bermain anak-anak.

Bahkan kritik tersebut dimuat dalam koran nasional. Sehingga banyak orang memahami bahwa kritik tersebut diarahkan kepada sekolah Al Hikmah. Alih-alih sibuk menjawab kritik tersebut, Al Hikmah justru terus menjalankan full day school.

Sampai satu hari ada yang hadir di rumah Ust. Abdulkadir Baraja untuk menyampaikan kritikan tentang pelaksanaan full day school. Namun begitu Al Hikmah tetap mantap pada keyakinannya. Bisa jadi pengkritik terlalu sempit memahami nama full day school. Dianggap seharian penuh untuk belajar.

Padahal di Al Hikmah tidak hanya bersekolah, tapi juga beraktivitas, juga belajar berinteraksi, belajar adab. Sehingga pendidikan sekolah tidak menjadi parsial dengan pendidikan rumah.

Al Hikmah benar-benar berhasil menjadi sekolah model, karena diferensiasi, dan keunggulannya. Stigma sekolah Islam yang terbelakang bahkan kumuh perlahan terpinggirkan. Mulailah muncul kebanggaan masuk sekolah Islam Al Hikmah. Orang tua pun merasakan kenyamanan dan kepercayaan semakin tinggi, terlebih anaknya tidak hanya dididik pelajaran, tapi juga dididik tentang bagaimana menghormati orang tua, belajar al Quran, dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *